BAHAGIA DI BULAN JUNI

Let her go

 

1 Januari 2016

Hari ini, saya berhenti memulai blog dengan tulisan “Are you paying attention?”

Dengan masuknya 2016, menandakan bertambahnya umur saya menjadi 19 tahun dan juga waktunya saya untuk menerima kenyataan. Mungkin kami hanya merasakan puncak rasa sayang kami hanya selama satu dari dua tahun pacaran. Namun saya cukup bahagia dan senang bisa menerima rasa sayang yang ia berikan kepada saya. Memori-memori indah dan kelam selama dua tahun takkan mudah terlupakan atau bahkan takkan terlupakan. Namun, sekarang ini saya harus menerima pil pahit yang dinamakan kenyataan sekarang ini.

Melepaskan dan merelakan merupakan suatu hal yang sangat sulit untuk dilakukan oleh manusia. Baik melepaskan mereka untuk selama-lamanya, melepaskan mereka untuk orang lain ataupun melepaskan mereka selama sementara. Hari ini, saya kembali belajar untuk melepaskan dan merelakan orang yang saya sayang dan kasihi. Ya, dia adalah orang yang sering membaca blog ini, orang yang menjadi tujuan blog ini dibuat, orang yang menjadi isi dari blog ini. Saya tahu, dari awal memang saya tidak punya harapan, dari awal memang 4 stage of Grievness/Joyness akan berakhir dengan kesedihan untuk saya walaupun saya juga puas karena berhasil menyampaikan seluruh perasaan yang sebenarnya saya rasakan kepadanya, dengan seluruh kemampuan yang saya miliki bahkan melebihi 100% dari batas kemampuan saya dan juga banyak bantuan dan dukungan dari teman-teman.

Namun, saya sering mengingat perkataan teman saya yang walau sering orang-orang bilang klise. “Jikalau orang yang kita sayang itu senang, kita juga akan merasa senang.” Saya pecaya itu. Meskipun bukan dengan saya, melainkan dengan orang lain. Terkadang hati kecil saya berteriak-teriak kesakitan, masih berharap jika dia membaca tulisan ini akan berlari membalikkan badannya kembali ke saya dengan matanya yang berkaca-kaca dan memeluk saya kemudian saya akan mengatakan untuk mari kembali menjalin hubungan kami lagi bahkan sampai sekarang. Namun, hati besar saya menutupi perasaan-perasaan itu dengan mencoba melepaskan dan merelakannya karena hati besar saya tahu kalau hal itu mungkin tidak akan terjadi. Untuk sekarang. Oleh karena itu tujuan adanya pertukaran barang kesayangan, karena saya–kami dan teman-teman kami percaya suatu hari nanti kami pasti akan kembali bersama-sama walau harus menunggu satu hari, minggu, bulan atau bahkan tahun.
Kalau saya boleh bermimpi, ketika hari itu datang… Maka, hal pertama yang saya, perasaan saya, hati saya lakukan adalah memberikan senyum tipis kepadanya dan mengatakan, “Selamat datang kembali, Dey.”

Begitulah tulisan yang saya buat di bulan desember untuk mempersiapkan yang terburuk, setelah melihat apa yang telah terjadi akhirnya saya…

Saya berubah pikiran. Awalnya saya kira melepaskannya pergi merupakan hal terbaik yang bisa saya lakukan untuk saya, ia–kami berdua. Tapi setelah saya membaca suatu tulisan di Path yaitu, “Forget what’s gone, appreciate what remains and look forward to what’s coming next.” Saya langsung berubah pikiran. Saya ingin melupakan apa yang sudah lewat, menghargai apa yang terisa dari hubungan kami, dan look forward kepada esok hari. Saya pernah berada di sisinya, saya akan berada di sisinya kembali, dan saya akan terus berada di sisinya. Saya akan terus menghargai apa yang tersisa . Sampai saat itu tiba, saya akan terus berjuang dengan sunyi.

Ps: Internet di rumah saya mati, tidak bisa menulis di blog selama beberapa minggu ke depan >< /

Advertisements
Leave a comment »

I HAVE ALTER EGOS!?

Sebelum memulai blog, mari kita lihat arti kata alter ego.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, alter ego adalah: alter ego/al·ter ego/ /alter égo/ Lat n Psi 1 aku yang kedua; 2 orang yang membantu serta menemani sahabat karib (seorang tokoh) seseorang dalam segala hal dan keadaan; kawan yang tidak terpisahkan, misalnya suami atau istri

Alter ego yang saya maksud di sini adalah pengertian pertama dari penjelasan KBBI di atas. Saya sering bilang kalau saya ini adalah manusia dengan 20 topeng di muka saya, saya menyesuaikan diri dengan berbagai lingkungan yang ada di sekitar saya. Namun saya rasa bukan hanya itu, saya merasakan keberadaan diri saya yang lain dengan tingkat kesadaran yang tinggi itu dengan alter ego saya yang mungkin  bisa dikatakan berperilaku seperti perempuan. Dengan kata lain, saya tertarik dengan busana, mix n match, berperasaan seperti perempuan (mungkin karena hasil Myers-Briggs Type Indicator saya mengasilkan INFJ) dll. Setelah menyadari dan menerima alter ego yang ada di dalam diri saya, rasa iseng pun muncul dalam diri saya. Rasanya ingin saya namakan sang alter ego perempuan yang ada di diri saya. Dan akhirnya pun saya namakan ia, Jessica Violina. OMG so girly I know. Lalu bagaimana dengan alter ego yang lainnya? Entahlah saya belum tahu betul karakteristik saya yang lain itu, mungkin karena saking banyaknya ya.

To be continued… (Maybe, saya ga expert soal ini jadi takut salah nulis.)

 

Leave a comment »

New year, new…

Oke, jadi pas banget di akhir tahun 2015 saya buat postingan di mana terdapat tulisan “…dan misteri akan menjadi karunia” cukup lucu juga kalau diingat-ingat.

Banyak orang yang bertanya kepada saya, “Tahun baru lo ke mana?” atau “Tahun baru lo ngapain?” Well, saya hanya bisa tersenyum tanpa memberikan sepatah katapun. Pada malam tahun baru tersebut, tepatnya jam 8 malam saya berangkat ke luar rumah. Ibu saya pun bertanya, “mas mau ke mana?”

“…”

“…mau jalan-jalan keliling Jakarta.” itulah yang saya katakan. Dengan senyum di wajah saya, perjalanan pun dimulai. Jam 9 malam saya sampai di tempat saya biasa nongkrong dengan baju  hitam yang saya pakai, secara tidak sengaja teman-teman saya pun memakai warna baju yang sama. Kami tertawa melihat kejadian ini, sungguh lucu nan ironis sekali. Setelah satu jam obrolan, mereka bilang ingin pergi ke monumen nasional, saya bilang tidak ikut dengan alasan ingin pergi ke rumah sepupu saya. Akhirnya saya pun ditinggal sendiri di tongkrongan saya tersebut sampai jam 11 malam. Sambil tidur-tiduran mendengarkan musik, tiba-tiba ada seorang motor yang mendekati saya. Kaget. Itulah yang saya rasakan pertama kali, ternyata hanyalah teman saya. Namanya Haryani Cintia, dia kira tongkrongan saya rame ternyata hanyalah ada saya seorang diri. Tidak lama kemudian teman saya yang lain pun datang, namanya Bella Ayudiah. Setelah bercakap-cakap selama setengah jam, akhirnya kami pun berpamitan karena saya ingin pergi ke rumah sepupu saya dan mereka ingin pergi ke McDonald Fatmawati.

Jalan begitu lenggang ketika saya mengendarai sepeda motor saya menuju kawasan Tanjung Barat, tidak sampai 10 menit saya sudah sampai di tempat. Padahal, biasanya butuh waktu setengah jam untuk sampai di sana.
Setelah sampai, hal pertama yang saya lihat adalah mobilnya. “Syukurlah, mobilnya ada”. Itulah yang ada di dalam batin saya, menandakan sepupu-sepupu saya ada di dalam rumah. Selama 10 menit saya mengetuk rumah melihat apakah ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya, namun perasaan saya mengatakan sepertinya mereka semua pergi.
Dengan berat hati, saya menyalakan motor saya dan pergi… Entah pergi ke mana, saya tidak punya arah tujuan. Akhirnya saya pacu motor saya sampai 100km/jam dengan tujuan Lawson di daerah cipete. Selama perjalanan saya merasa takut. Takut merayakan tahun baru sendiri, takut tidak bisa melihat orang-orang yang penting di dalam hidup saya sebagai penutup dan pembuka tahun, takut kalau saya harus merayakan tahun baru sambil mengendarai motor. Tepat 5 menit sebelum pergantian tahun saya sampai di lawson, dengan sigap saya langsung masuk dan membeli sebungkus rokok marlboro merah dan kiyora green tea. Saya duduk di luar, membakar rokok yang saya beli dan…

“Selamat tahun baru!!”

Suara bising petasan, kembang api, terompet dan manusia-manusia yang ada di sekitar saya memeriahi pergantian tahun ini… Hal terakhir dan pertama yang saya lihat adalah… Langit. Lalu secara spontan dalam hati saya mengucapkan, “Happy new years eve, Fajar Ramadan. Congrats, you’ve turned into 19 years old right now. Happy birthday to you, myself.” Entah mengapa saya tiba-tiba ingat apa yang saya katakan kepada Ibu saya sebelum berangkat pergi. Saya cukup merasa sedih tidak bisa berbagi kebahagiaan dengan orang lain di malam tahun baru tersebut, terlebih lagi di hari itu juga umur saya bertambah menjadi 19 tahun. Tak ada seorang pun yang berada di samping saya saat itu. Lalu suatu ketika, saya teringat teman saya yang sedang berada di McDonald Fatmawati, dengan cepat saya langsung meluncur ke sana. Pikir hati, daripada saya sendirian seengaknya ada temennya, deh! Tidak lama kemudian salah seorang teman saya menyusul, ia adalah Devi Saputri. Kami berempat berbincang-bincang banyak hal. Sampai-sampai saya mendapati notifikasi panggilan dari teman saya untuk datang ke tongkrongan, saya pun berpamitan sebentar kepada mereka… Hal lucu terjadi. Ketika saya bayar parkir dengan pecahan uang 10 ribu, tukang parkirnya cukup lama untuk memberikan uang kembaliannya. Setelah itu saya langsung tancap gas ke tongkrongan saya.

Sesampainya di tongkrongan saya, hp saya bergetar terus menerus… Saya lihat ada notifikasi dari Devi dengan isi chat yang saya hanya bisa lihat huruf “p”. Lalu saya baca chat-nya dan… Saya langsung tertawa, bagaimana bisa saya tidak melihatnya? kata-kata yang muncul di benak saya. Setelah selesai dengan urusan di tongkrongan saya pun langsung kembali ke McDonald. Sesampainya di sana, hanya ada Devi seorang diri… Cintia dan Bella sudah pulang ternyata. Saya tanyakan ke mana mereka berdua dan Devi menjawab kalau Cintia ada urusan perut yang tidak bisa diganggu gugat dan Bella mendapati lembur di tanggal 1 kemarin. Kasihan.

Awalnya saya ingin langsung pergi lagi, tapi Devi minta temenin karena takut jalanan masih sepi. Well, saya juga ga enak hati dia udah nungguin saya waktu ke tongkrongan maka saya kembalikan budi kebaikannya. Sekitar 15 menit kemudian, Devi tiba-tiba berbisik… “Koh, Koh… Deyan turun tuh…” saya ingin berbalik diri namun salah satu bagian dalam diri saya bilang jangan. Daripada suasana jadi awkward mending saya ga usah balik badan. Kami kembali berbincang-bincang ga jelas sampai ada telepon dari seseorang yang cukup penting untuk saya. Tertulis nama Mas Farhan di pesan telepon masuk. Ya, dia adalah kakak angkat saya yang kebetulan lupa hari itu ulang tahun saya padahal satu hari sebelumnya masih ingat kalau tanggal satu itu hari ulang tahun saya. Oh well, dia mengucapkan selamat ulang tahun dan berbagai hal kami bicarakan berdua sampai saya lupa kalau sedang bersama teman saya. Setelah selesai pembicaraan dengan Mas Farhan, saya bergegas kembali ke meja kami. Tidak lama kemudian matahari mulai terbit, Devi mengajak saya untuk pulang. Kami berpisah di perempatan fatmawati di mana saya berbelok ke kiri menuju Tanjung Barat dan Devi menunggu lampu merah.

Sesampainya di Tanjung Barat, saya terkaget-kaget ketika mengetahui kalau sepupu cowok saya masih terbangun bahkan sampai jam 2 pagi. Tetapi berhubung lampu dimatikan saya kira dia sudah telelap. Ah sudahlah, nasi sudah menjadi bubur. Sekitar jam setengah tujuh pagi saya minta izin untuk tidur dan berakhirlah pertualangan saya di tahun baru ini.

Next chapter: I HAVE ALTER EGOS!?

Leave a comment »