BAHAGIA DI BULAN JUNI

Peri Kecil dan Kristal Bening

on November 14, 2015

Peri Kecil dan Kristal Bening

Pada suatu hari, Sang Pencipta menciptakan seorang peri kecil. Beliau menugaskan kepada sang peri kecil untuk menjaga ciptaan-Nya yang berwujud manusia dan mengusapkan titik-titik kristal bening yang jatuh dari matanya yang indah. Setelah mendapatkan perintah tersebut, peri kecil langsung turun ke Bumi untuk mendatangi manusia tersebut.
Peri kecil memperkenalkan dirinya, ia mengatakan bahwa Sang Pencipta telah mengutusnya untuk mendampingi manusia itu. Peri kecil menjalankan tugasnya hari demi hari tanpa lelah menjaga dan mengusap titik-titik kristal bening tersebut. Walau terkadang, halangan dan rintangan dihadapi oleh peri kecil tersebut, ia tetap berusaha sekuat tenaga untuk terus menjalankan amanat dari Sang Pencipta.

Karena suatu hal, peri kecil mulai berubah tingkah perlahan demi perlahan… Sang manusia pun menyadarinya dan menanyakan ada apa gerangan dengan sang peri kecil, mengapa sang peri yang awalnya begitu baik berubah tingkah terhadap dirinya? Peri kecil hanya bisa diam seribu bahasa tanpa bisa menjawab sepatah kata pun.
Sang manusia terus menunggu dan menunggu akan kembalinya sifat peri kecil yang hangat dan periang, tapi tak pernah terwujud… Sampai akhirnya, sang manusia mengatakan bahwa ia sudah merasa cukup dengan peri kecil tersebut.
Peri kecil pun mengiyakannya, ia pergi meninggalkan sang manusia yang telah ditugaskan untuk ia jaga. Manusia itu bersedih, menyesali kata-kata yang telah terucap olehnya dan berdoa kepada Sang Pencipta untuk menghadirkan kembali peri kecil ke dalam hidupnya. Namun sayang, peri kecil yang mendengar doa manusia tersebut belum bisa menerimanya dan terus menolak permintaannya.
Sampai suatu hari, manusia itu berhenti meminta peri kecil itu kembali ke sisinya, peri kecil merasa kebingungan… Karena rasa ingin tahunya yang tinggi, ia kembali turun ke Bumi untuk melihat keadaan sang manusia. Betapa kagetnya peri kecil ketika manusia tersebut telah bersama peri kecil lainnya.

Peri kecil bersedih… Ia meraung, kesakitan, menyesal dan merasa sedih melihat sang manusia telah bersama peri lain. Namun, emosi-emosi tersebut telah membuat peri kecil berubah menjadi seekor monster atau buruk rupa. Ia menghalalkan segara cara untuk mendapatkan sang manusia kembali, tapi… Semua cara yang ia lakukan berujung dengan sia-sia. Peri kecil yang telah menjadi buruk rupa mulai merasa putus asa, ia berdoa kepada Sang Pencipta… “Ya Penciptaku, aku menyesali semua yang telah kuperbuat kepada manusia tersebut… Aku ingin berada di sisi manusia itu kembali, namun… Jikalau manusia itu telah bahagia bersama peri lain, tolong izinkan aku untuk membuat sesuatu yang berkesan untuk berpisahan dengannya yang semoga hanya untuk sementara waktu.” Doa itu pun diterima oleh Sang Pencipta. Peri kecil diberi kesempatan sebanyak empat kali, setelah itu ia harus bertindak pasif menunggu manusia itu bisa menerima peri kecil kembali.

Dua kesempatan telah digunakan oleh peri kecil, namun ia merasa hasilnya jauh dari memuaskan. Akhirnya pada kesempatan ketiga, ia membuat sesuatu yang begitu besar dan belum pernah ia buat semasa ia diciptakan oleh Sang Pencipta. Selama pembuatan, terkadang ia merasa kalau sesuatu yang besar ini pasti akan berujung sama dengan usaha-usahanya yang sebelumnya sehingga ia merasa kalau ini adalah usaha terakhir yang akan ia lakukan untuk sang manusia itu. Peri kecil mulai berkhayal menginginkan sang manusia tersebut melakukan apa yang biasa peri kecil lakukan kepadanya. Ia ingin mengeluarkan seluruh emosinya ke dalam sesuatu yang besar tersebut. Peri kecil mulai merasa bagaikan manusia… Ia senang dan sedih akan hal-hal yang kecil, ia ingin terlihat tegar ketika di depan banyak orang, tidak mau telihat lemah oleh orang lain namun juga ingin ditoleransi oleh orang-orang disekitarnya terutama sang manusia yang ia sayangi dengan mengatakan “Tak apa bagimu untuk menitikkan kristal bening, saya berada di sini dan sekarang giliran saya untuk mengusapkan kristal bening tersebut.”
Sebenarnya, ia telah menyiapkan rencana usahanya yang keempat. Namun ia merasa bahwa sepertinya tidak perlu karena memang kemungkinannya sangat kecil, bahkan untuk sang manusia bisa mengingatnya juga merupakan suatu rasa syukur yang tinggi. Setelah selesai dengan usaha ketiganya, peri kecil berjanji akan berhenti bersikap aktif terhadap sang manusia dan menjadi menunggu dengan pasif.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: